Jumat, 14 November 2014

KEINDAHAN—ILAHI, MANUSIA, KOSMIS

KEINDAHAN—ILAHI, MANUSIA, KOSMIS
Keindahan dan cinta adalah dua aspek dari kenyataan yang sama jika dilihat dari sudut pandang tertentu, yang satu memiliki sifat aktif dan yang lainnya pasif. Yang satu seperti api yang membakar sedangkan yang lainnya sebuah danau tenang dan tak terganggu, walaupun ada dimensi ketenangan dalam cinta setelah direalisasi dan keindahan juga dapat dilihat dalam petir dan kilat. Ada komplementaritas di dalam komplementaritas yang pertama, yaitu sebuah elemen pasif di dalam sifat cinta yang aktif dan elemen aktif di dalam sifat keindahan yang pasif. Kita bahkan dapat dengan mudah menerapkan doktrin Timur Jauh tentang komplementaritas dari yin dan yang serta kehadiran yin di dalam yang dan yang di dalam yin pada hubungan mendasar antara cinta dan keindahan ini. Singkatnya, keduanya tak terpisahkan pada tingkat tertentu, karena bagaimana mungkin orang tidak mencintai apa yang indah dan bagaimana mungkin sesuatu yang kita cintai tidak akan tampak indah pada tingkat tertentu (dan bukan hanya pada bentuk lahiriah dan tampilan luarnya)?
Dengan cara yang sama Al-Quran dan Hadis berbicara tentang cinta, keduanya juga berbicara tentang keindahan dan bahkan Al-Quran merujuk kepada Nama Tuhan, yang mengungkapkan Sifat-Nya kepada kita, sebagai nama yang indah. Ada Hadis, kumpulan ucapan Nabi mengatakan, “Tuhan itu indah dan Dia mencintai keindahan” secara praktis merupakan dasar estetika Islam. Selain itu, Nama-Nama Allah secara keseluruhan disebut Nama-Nama yang Indah. Dua istilah dasar yang digunakan untuk keindahan dalam sumber-sumber dasar Islam pada umumnya dan Tasauf khususnya adalah husn atau ihsān, dan jamāl. Yang terakhir ini adalah Nama Allah, sebagaimana disebut di dalam hadis yang sudah dikutip—dan juga disebutkan di dalam Al-Quran—sementara yang pertama menyangkut Allah sekaligus manusia, serta jalan kepada-Nya. Husn dalam bahasa Arab pada saat bersamaan berarti keindahan, kebaikan, dan keutamaan, yang dari sudut pandang Sufi tidak lain daripada keindahan jiwa. Tasauf itu sendiri didefinisikan sebagai ihsān, yang, seperti dijelaskan oleh sebuah hadis qudsi, berarti menyembah Allah seakan-akan kita melihat Dia dan jika kita tidak melihat-Nya, seolah-olah Dia melihat kita. Jalan menuju Taman Kebenaran ditutupi oleh berbagai bentuk keindahan yang semuanya merupakan teofani Keindahan Wajah Sang Kekasih, dan jalur ini tidak bisa ditempuh kecuali oleh orang yang menghias jiwanya dengan keindahan. Lalu bagaimanakah para Sufi memahami kenyataan penting ini dalam kehidupan ruhani?
Seperti halnya wujud, keindahan adalah kenyataan universal yang tidak dapat dibatasi, dan definisi logis tidak merangkum semua kenyataannya. Kita dapat menunjuk kepadanya dalam kontras dengan kejelekan, namun itu tidak mencukupi karena pada intisarinya keindahan melampaui dualisme, termasuk dualisme biasa keindahan dan kejelekan, yang kita alami melalui indera kita. Akan tetapi, sebagian guru bijak selama berabad-abad telah berusaha untuk mendefinisikan keindahan. Salah satu yang paling termasyhur adalah Plato, yang mengatakan, “Keindahan adalah kecemerlangan Kebenaran.” Kaum Sufi akan siap untuk menerima pernyataan ini, kecuali bahwa mereka akan menambahkan bahwa karena Kebenaran juga Kenyataan dalam perspektif mereka, seperti terlihat dalam kata al-haqīqah, yang berarti keduanya, keindahan dapat dikatakan sebagai kecemerlangan Kenyataan itu sendiri. Semua kenyataan memancar dari yang Satu, Yang merupakan satu-satunya Realitas mutlak yang juga Keindahan mutlak. Ketika yang Satu mewujudkan yang banyak pada berbagai tingkatan eksistensi kosmik, Keindahan mutlak ini juga mewujud bersamaan dengan eksistensi, di mana ia seperti aura di sekitar matahari. Apa yang tampak jelek oleh kita muncul dari non-eksistensi yang menampakkan diri sebagai eksistensi. Karena eksistensi itu sendiri memancar dari yang Nyata, yang auranya adalah keindahan, yang muncul sebagai kejelekan merupakan akibat tiadanya cahaya Wujud dan bayangan yang terbentuk sebagai akibat jauhnya jarak dari Sumber cahaya ini.
Kaum Sufi juga setuju sepenuhnya dengan Plato ketika dalam Philebus ia menegaskan bahwa keindahan adalah bagian dari realitas hal-hal dan tidak bergantung pada apresiasi subyektif atau persepsi kita mengenainya. Keindahan adalah bagian dari realitas objektif setiap wujud. Ia tidak tergantung pada penontonnya kecuali hingga sejauh mana setiap penonton itu mempersepsi keindahan sesuai partikularitas jiwanya dan hingga sejauh mana jiwanya indah dan mampu mengapresiasi keindahan. Tetapi itu tidak berarti bahwa keindahan semata-mata berdasarkan pada penilaian subjektif kita, sebagaimana ketidaktahuan kita tentang struktur geologi sebuah gunung karena kurangnya pengetahuan kita tidak membuat struktur itu menjadi subjektif. Ya, kita harus melatih mata dan telinga kita untuk melihat dan mendengar keindahan, dan itu hanya dapat dilakukan, dalam peristilahan spiritual, jika jiwa telah terlatih dan dibiasakan dan dibuat indah melalui perolehan kebaikan. Akan tetapi, pelatihan ini bukan satu-satunya syarat sejauh menyangkut apresiasi pada manifestasi keindahan universal. Tentu saja juga diperlukan penguasaan bahasa formal yang digunakan untuk mewujudkan jenis keindahan tertentu. Seorang Persia lazimnya tidak bisa mengapresiasi keindahan Sanctus dari Mass in B Minor karya Bach atau seorang Jerman pada keindahan musik raga India tanpa pelatihan tentang “bahasa” formal yang digunakan. Namun beberapa jenis keindahan bersifat universal dan melintasi kekhasan budaya. Bagi mereka yang mengapresiasi keindahan alam, pegunungan Himalaya menunjukkan keagungan dan keindahan yang nyata, yang diapresiasi manusia baik yang berasal dari Brasil, Nigeria, ataupun Jepang. Dan keindahan seorang manusia dapat dipersepsi ke mana pun orang tersebut pergi di muka bumi. Bahkan dalam domain seni, di mana masing-masing peradaban memiliki bahasa formal yang berbeda, beberapa adikarya besar menampilkan keindahan universal. Kita hanya perlu mengingat Chartres Cathedral, Alhambra, atau lukisan Sung. Singkatnya, pelatihan jiwa dalam bahasa formal berbagai kesenian dalam banyak kasus harus menyertai pendekorasian jiwa dengan keindahan batin, sementara Allah telah memanifestasikan keindahan dengan cara tertentu sehingga beberapa jenis keindahan melintasi seluruh batas budaya seolah-olah untuk mengingatkan kita bahwa Keindahan seperti itu dimiliki oleh yang Tak Berbentuk dan melampaui partikularitas semua “bahasa” formal.
Dalam Tasauf estetika tidak terpisah dari disiplin rohani dan etika. Orang tidak dapat terbang dengan sayap keindahan menuju kebebasan dunia spiritual tanpa disiplin dan tanpa menjadi sadar dan mencintai Keindahan mutlak Allah yang dirindukan oleh jiwa, terlepas apakah ia menginsafinya atau tidak, dalam pencariannya akan setiap bentuk keindahan duniawi. Pencarian ini tidak mungkin dilakukan tanpa etika dan disiplin rohani. Seperti yang pernah dikatakan oleh Plotinus, yang disebut kaum muslim Shaykh, atau guru rohani, dari Yunani, jiwa mengejar keindahan dan keindahan merupakan manifestasi dari kuasa rohani yang menggerakkan semua tingkatan realitas. Kaum Sufi sepenuhnya setuju dengan pandangan ini, yang dulu pernah mendominasi estetika Barat namun kemudian terpinggirkan di Barat bersama ajaran Neoplatonik tentang subjek ini, pada abad kedelapan belas.
Bagaimanakah keindahan yang didambakan jiwa ini dirasakan dan dialami? Karena keindahan bersemayam di kedalaman jiwa, dan pada saat yang sama jiwa pun mendambakannya, Allah telah menjadikannya dapat dialami melalui semua fakultas, baik lahiriah maupun batiniah, yang dimiliki oleh jiwa itu. Semua indera lahiriah kita dapat merasakan keindahan terutama fakultas penglihatan dan pendengaran. Bahkan, kerap kali ketika kita merujuk pada keindahan, keindahan yang terdengar atau terlihatlah yang ada dalam pikiran kita. Tetapi fakultas batiniah dari jiwa kita juga dapat mempersepsi citra-citra keindahan yang tersembunyi dari mata lahiriah kita. Fakultas imaginal dapat mempersepsi citra-citra yang indah. Pikiran dapat melihat keindahan bentuk-bentuk matematis dalam dunia matematika murni terlepas dari alam material. Ia juga dapat memahami harmoni, yang tak dapat dipisahkan dari keindahan. Akal yang bersinar di dalam diri kita dapat merenungkan yang dapat dipahami secara murni dan alam malakuti. Adapun hati, ketika matanya dibuka, ia dapat melihat Keindahan wajah sang Kekasih itu sendiri. Melalui cara apa pun kesadaran kita berhubungan dan menjadi sadar akan realitas objektif, ada kemungkinan untuk mengalami keindahan, sebuah kualitas yang menjalari semua tingkatan dan modus keberadaan.
Walaupun keindahan ada di mana-mana, entah kita menyadarinya atau tidak, keindahan juga memiliki hierarki, sebagaimana halnya pada realitas, wujud dan cinta. Keindahan tertinggi adalah keindahan Realitas Tertinggi; keindahan mutlak adalah keindahan dari yang Mutlak. Bahkan keindahan paling intens yang dialami di dunia ini dalam wajah indah seseorang yang dicintai atau karya seni terhebat alam yang perawan atau bahkan semerbak jiwa seorang suci merupakan pantulan dari Keindahan ilahi. Mutlak dan tak terbatas secara sekaligus, Keindahan ini dapat dialami Kecantikan tetapi tidak dijelaskan dalam kata-kata manusia, sebagai realitas yang benar-benar tak terucapkan. Keindahan ini merupakan mahkota dari hierarki keindahan dan pada saat yang sama sumber setiap bentuk keindahan. Di bawahnya dalam hierarki itu terdapat keindahan dunia yang terpahamkan secara murni dan dunia malakuti, dan setelah itu dunia ruang-waktu yang mencerminkan dunia arketipal dan terpahamkan hampir secara langsung. Kategori terakhir bentuk-bentuk yang terikat oleh waktu dan ruang ini tentu saja mencakup alam perawan sebagaimana yang diciptakan oleh sang Seniman Tertinggi dan karenanya mencerminkan keindahan Penciptanya dengan sangat mencengangkan. Seni suci yang didasarkan pada inspirasi surgawi dan yang memungkinkan pengalaman langsung dunia spiritual dalam bentuk material juga termasuk dalam kategori ini.
Menurut ucapan Hermetik termasyhur, “Apa yang terendah melambangkan apa yang tertinggi.” Prinsip ini juga berhubungan dengan pengalaman keindahan Meskipun dunia material merupakan yang terendah dalam hierarki eksistensi, ia mencerminkan dunia tertinggi. Keindahan suatu bentuk material dengan demikian dapat mencerminkan keindahan tertinggi dan akhirnya Keindahan Ilahi. Banyak Sufi sepanjang zaman telah sepenuhnya sadar akan kebenaran ini dan memandang setiap bentuk yang indah sebagai bentuk pantulan Keindahan Wajah Dia.
Adapun mengenai keindahan manusia penting untuk dijelaskan di mana kedudukannya di dalam hierarki ini. Karena keadaan manusia mencakup semua tingkat keberadaan di dalam dirinya sendiri, dapat dikatakan bahwa manusia dapat merangkul seluruh hierarki. Manusia dapat memiliki keindahan fisik, keindahan karakter, keindahan jiwa, keindahan pikiran dan akal, dan keindahan hati. Dalam wilayah keduniaan, manusia sebenarnya merupakan bentuk keindahan tertinggi, terutama keindahan Manusia Universal, yang di dalamnya semua kemungkinan manusia terwujudkan. Adapun keindahan fisik bagi manusia biasa, itu adalah pemberian Allah, terutama ketika seseorang masih belia. Ketika kita semakin tua tindakan-tindakan kita yang didasarkan pada pilihan dan kehendak bebas akan semakin tercermin di dalam penampilan luar kita, dan kecantikan batin, dalam kasus orang-orang yang memiliki keindahan seperti itu, mulai mendominasi tampilan luar sementara keindahan lahiriah pemberian Allah akan semakin memudar. Tetapi keindahan lahiriah bukannya tidak berarti. Itu sebenarnya merupakan sebuah berkah yang besar dari Allah, membawa bersamanya banyak hak istimewa tetapi juga tanggung jawab besar. Kaum Sufi sering mengatakan bahwa merenungkan keindahan wajah seorang perempuan bagi seorang Sufi laki-laki adalah jalan yang paling langsung untuk merenungkan Keindahan Ilahi, dan yang sebaliknya juga benar. Ibn ‘Arabī dan Syabistarī, misalnya, menulis bagaimana setiap sisi wajah perempuan mengungkapkan Sifat Tuhan dan menyingkapkan sebuah Misteri Ilahi. Ibn ‘Arabī menulis ketika berada di Makkah dia bertemu dengan seorang wanita Persia muda dan ketika melihat wajahnya semua ilmu esoterik seolah-olah secara tiba-tiba terungkapkan baginya. Singkatnya, kaum Sufi, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya pecinta Allah, tetapi mereka juga pencinta keindahan, yang tak dapat dipisahkan dari Realitas Ilahi dan yang, karena terkait dengan ketidakterbatasan Ilahi, menghadirkan kedamaian total dan membebaskan jiwa dari semua belenggu yang membatasi keberadaan.
Meskipun banyak Sufi gencar mengejar keindahan dan bentuk-bentuk yang indah, ada beberapa yang memperingatkan terhadap pencarian akan keindahan jika jiwa belum bersiap untuk pengalaman total Keindahan melalui bentuk-bentuk yang indah dengan membersihkan diri batinnya dari berbagai ketidaksempurnaan dan keburukan. Persis karena keindahan menarik jiwa, ia juga dapat menjebaknya dan bertindak sebagai sarana yang kuat untuk mengalihkannya dari Sumber segala keindahan. Itulah mengapa beberapa guru bijak dan mistikus di semua agama menganggap keindahan sebagai pedang bermata dua dan mencoba untuk menahan diri mereka dari mengapresiasi bentuk-bentuk lahiriah keindahan pada tahap tertentu dalam perjalanan spiritual. Orang-orang seperti itu disebut asketik (zuhhād dalam Islam), dan ada banyak orang yang demikian dalam sejarah awal Tasauf sebelum dimensi cinta dan pengetahuan mekar sepenuhnya. Tokoh-tokoh ini, sebenarnya, mempersiapkan landasan yang diperlukan bagi perkembangan itu. Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang suci dan peramal seperti itu adalah bahwa jiwa jangan sampai terperangkap di dalam sesuatu yang terbatas dan menghalanginya untuk naik ke tingkat kesempurnaan. Dengan demikian mereka berkonsentrasi hanya pada Allah sebagai yang Esa melebihi semua manifestasi dan segala bentuk.
Bahaya yang menjadi keprihatinan mereka berkaitan dengan kekeliruan menganggap suatu bentuk keindahan yang terbatas sebagai realitas yang mandiri, terlepas dari Allah sebagai Sumber segala keindahan. Persis lantaran sifat keindahan itulah maka ia memiliki kekuatan untuk menarik kepada dirinya sendiri dalam cara tertentu sehingga jiwa lupa akan Sumber keindahan ini dan juga fakta bahwa keindahan bentuk duniawi bersifat sementara. Tak banyak orang yang teralihkan dari Allah lantaran sesuatu yang buruk. Biasanya yang menyibukkan jiwa dan menjauhkannya dari Taman Kebenaran adalah sebuah bentuk yang memiliki beberapa jenis keindahan, yang padanya jiwa kemudian menjadi tertarik. Bayangan Keindahan Wajah Dia mulai bersaing di dalam jiwa dengan Keindahan mutlak, disebabkan oleh ketidaktahuannya jiwa tidak dapat membedakan antara yang Nyata dan pantulannya. Singkatnya, dalam visi Tasauf yang integral, keindahan akan tetap menjadi kenyataan di pusat kehidupan spiritual. Taman Kebenaran itu indah, dan tak seorang pun dapat memasukinya yang tidak menghargai keindahan dan yang tidak indah secara batin, yang tidak dapat membedakan antara keindahan dan kejelekan, yang berkaitan dengan mencermati perbedaan antara yang nyata dan tak nyata, yang salah dan yang benar.
Keindahan tidak dapat dipisahkan dari yang nyata dan benar karena, seperti mereka, ia mendampingi pantulan dari yang Esa di dalam yang banyak. Ia membukakan pintu bagi yang terbatas menuju yang Tidak Terbatas dan membebaskan jiwa dari kungkungan bentuk-bentuk terbatas, meskipun ia termanifestasi dalam tatanan formal. Harmoni merupakan hasil dari pantulan yang Esa di dalam yang bermacam-macam, dan karena itu ia terkait erat dengan keindahan. Objek keindahan memiliki harmoni kualitatif yang terkait dengan realitas seperti warna. Mereka tidak hanya dapat memiliki harmoni kualitatif tetapi juga kuantitatif. Ini dapat ditemukan, misalnya dalam musik, yang, di samping kualitas suara, terkait secara kuantitatif dengan pengukuran dan matematika, disiplin yang dipelajari dalam sains harmonik. Seni Islam dicirikan oleh proporsi harmonis, kejelasan matematis, dan berbagai tingkat simetri.
Dalam dunia spiritual lainnya yang tidak simetris juga dapat menjadi kendaraan bagi keindahan, sebagaimana yang dapat kita lihat pada taman Zen, tetapi dalam perspektif Sufi simetri biasanya dianggap terkait dengan harmoni dan harmoni dengan keindahan. Keindahan jenis ini melibatkan akal, dan kemampuan akal untuk mengerti, termasuk keindahan matematis, dianggap sebagai kualitas keindahan yang dirasakan pada tingkatan yang tinggi. Di bawahnya terletak keindahan yang dicerap oleh pancaindera dan di atasnya keindahan tak terlukiskan dari dunia yang mentransendensi segala bentuk. Tetapi seperti yang sudah disebutkan, semua tingkat keindahan ini adalah pantulan dari Keindahan puncak Wajah sang Kekasih, yang dialami oleh kita manusia saat berada dalam keadaan Surgawi.
Pengalaman keindahan itu masih berdiam jauh di dalam jiwa. Salah satu fungsi keindahan dalam kehidupan manusia adalah untuk memunculkan ingatan tentang Keindahan surgawi. Jika dipahami secara spiritual, keindahan itu sendiri menjadi sarana pemusatan perhatian dan penemuan kembali watak sejati kita sebagaimana Allah telah menciptakan kita, watak yang masih kita bawa jauh di dalam diri kita meskipun sudah terlupakan sebagai akibat dari kejatuhan kita ke dalam keadaan ketidaktahuan dan tidak lagi mengenal siapa diri kita. Setelah menjadi sepenuhnya terlahiriahkan (exteriorized), kita cenderung untuk hanya melihat pada bentuk lahiriah dan mencari keindahan lahiriah, sedangkan para Sufi merenungkan, melalui bentuk-bentuk lahiriah, makna batiniahnya dan keindahan batiniah yang terkandung di dalamnya. Seperti kata penyair Sufi Persia abad ketiga belas Awhad al-Dīn Kirmānī,
Lalu aku memandang wajah dunia dengan mata optik,
Karena bentuk lahiriah membawa tanpa Makna batin.
Dunia tak lain adalah bentuk dan kita harus hidup dalam bentuk:
Kita tak dapat melihat Makna lahiriah kecuali dalam bentuk.
Menurut hadis Nabi, Allah telah menuliskan keindahan di atas wajah segala sesuatu. Inilah wajah yang dipalingkan setiap makhluk kepada Allah. Realisasi spiritual berarti melihat wajah ini dan keindahan yang tertulis di atasnya serta mendengarkan musik indah dari seruan setiap makhluk, yang membentuk inti eksistensinya. Ini berarti melihat bentuk-bentuk dalam kebeningan metafisikal mereka dan bukan kegelapan lahiriah mereka. Kebeningan itu tak terpisahkan dari keindahan karena ia seperti jendela yang melaluinya Cahaya dari yang Tak Berhingga dan bersamanya pantulan dari Keindahan-Nya memasuki substansi bentuk itu sendiri, membuatnya menjadi kendaraan yang, melalui kecantikan mereka, membawa kita kepada yang Tak Berbentuk dan kepada Sumber dari semua keindahan.
Ya Tuhan Engkau yang paling mengetahui itu kini dan nanti,
Kami tidak melihat apa pun kecuali keindahan Wajah-Mu
Yang indah di dunia ini adalah cermin dari Keindahan-Mu
Kami telah melihat di Wajah Raja yang Maha Perkasa.
Akan tetapi, untuk meraih tujuan perenungan Keindahan Allah di dalam bentuk-bentuk duniawi, jiwa harus memperoleh kembali keindahan realitas purbanya, yang tak lain dari ihsān, dan yang dengan demikian juga berarti menjadi berhiaskan kebajikan-kebajikan—kebajikan yang memperindah jiwa dan yang akhirnya merupakan milik Allah. Jiwa yang indah tertarik kepada Keindahan Ilahi seperti ngengat tertarik kepada cahaya lilin dan senantiasa mengalami di dalam setiap keindahan duniawi Keindahan Ilahi dari sang tukang Kebun di Taman Kebenaran, sebuah keindahan yang tak terpisahkan dari tujuan akhir kehidupan manusia.
Para raja menjilati tanah yang darinya keindahan ini dibuat,
Sebab Allah telah mencampur di dalam tanah berdebu
Seteguk keindahan dari cangkir paling terpilih-Nya.
Inilah dia, kekasih tersayang—bukan bibir tanah liat itu—
Yang engkau kecup dengan ratusan gairah,
Maka bayangkanlah, seperti apa kiranya andai ia tak bercela!

Rūmī
Oleh: Ahmad Y. Samantho
Dicuplikdari buku : GARDEN OF TRUTH karya Seyyed Hossein Nasr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar